(Click to Enlarge Thumbnail)
Created By: Budi Atmoko
Category: Structure
Struktur Sayap Pesawat Terbang Model
Struktur Sayap Pesawat Terbang Model, Tidak hanya harus ringan namun juga harus kuat
Dalam arah sejajar bidang sayap
nantinya juga akan terjadi gaya tahan atau Drag. Gaya tahan ini terjadi
karana adanya gesekan ataupun karena tahanan aerodinamis yang terjadi
akibat gaya angkat. Pada umumnya gaya angkat pada sayap dapat mencapai
10 kali lebih besar dibandingkan gaya tahan. Dalam hal ini diambil satu
perkataan efisiensi gaya angkat yang dibandingkan dengan gaya tahan yang
bersifat menghambat. Kita mengetahui gaya angkat disini diperlukan
untuk mengangkat keseluruhan berat pesawat. Sedangkan gaya tahan justru
kita harus melawan dengan tenaga dorong mesin atau dengan sistem
propulsi.
Gaya angkat ini pulalah yang menanggung
seluruh berat pesawat terbang dalam kondisi penerbangan ,termasuk
diantaranya ketika bermanuver, berbelok ataupun ketika membuat
lingkaran, membentuk tikungan atau terbang miring. Dalam kondisi terbang
manuver demikian sering kali beban berat yang terjadi dan harus ditahan
oleh sayap, dalam hal ini sebagai penghasil gaya angkat menjadi lebih
besar dari pada berat pesawat itu sendiri. Seringkali bukan hanya satu
atau satu setengah kali, faktor gaya angkat yang harus dihasilkan
seringkali harus sampai 3 atau empat kali gaya berat terutama untuk
manuver-manuver aerobatik. Faktor pengali untuk gaya berat seperti ini,
dalam dunia penerbangan dikenal dengan istilah G faktor.
Gaya
angkat pada sayap yang terjadi ini harus mampu menahan G x berat total
pesawat . Jadi apabila kita melihat sebuah pesawat melakukan manuver
loop yang radiusnya cukup kecil, kita bisa memperkirakan pesawat
tersebut mengalami G faktor > 6 dan sayapnya harus menahan berat
dengan gaya angkat sebesar 6 x berat pesawat itu sendiri. Berat seperti
inilah yang merupakan pembebanan yang harus kita perhatikan, karena
beban ini terjadi pada struktur sayapnya. apabila kita tidak siap untuk
mengatasi hal ini, sayap pesawat terbang bisa patah atau mungkin retak
dan selanjutnya akan pecah berantakan diudara. Sebenarnya gaya angkat
yang terjadi pada sayap tidaklah merupakan beban yang terkonsentrasi
pada satu titik melainkan beban yang terdistribusi sepanjang bentang
sayap, jadi merupakan distribusi gaya angkat.
Untuk mengkaji apakah sayap pesawat
sanggup menahan beban tersebut atau tidak . Kita harus mencek setiap
penampang sayap dari bagian tengah atau pangkal ke bagian tepi. Tentunya
kita bisa mengkaji secara analisis dengan perhitungan matematis biasa
dan beberapa rekan dari teknologi penerbangan banyak yang sudah
mengembangkan sistem komputasi untuk menghitung atau mengkaji sitiap
posisi penampang sayap dari pangkal hingga ke tepi . Sebenarnya apa yang
terjadi di bagian-bagian sayap tersebut ? Jika kita melihat suatu
penampang tertentu dari sayap kita bisa melihat bahwa pada suatu posisi
akan terjadi suatu pembebanan berupa moment, momen lentur yang dalam hal
ini dan sebuah gaya lintang yang besarnya sama dengan gaya angkat yang
terjadi di sayap bagian luar. Dengan kita menyadari bahwa seluruh
pembebanan dibagian sayap luar itu dipindahkan ke sayap bagian dalam,
maka secara akumulasi kita akan mengetahui dibagian pangkal sayap
nantinya akan terjadi suatu pembebanan yang paling besar. Disinilah kita
harus siap-siap mengantisipasi nya. Di bagian penampang-penampang sayap
tersebut misalnya di bagian pangkalnya atau di bagian yang berjarak
kira-kira 20 cm dari pangkal dan sebagainya, beban-beban tersebut yang
dalam hal ini berupa moment lentur dan gaya lintang itu ditahan oleh
material ditempat itu dan juga oleh inersia dari penampang nya. Jadi
kalau kita memiliki inersia pemampang yang cukup besar misalnya karena
ketebalan penampangnya itu besar, maka diperlukan material yang tidak
terlalu kuat untuk menahannya. Sebaliknya jika inersia penampangnya
kecil misalnya untuk sayap dengan airfoil yang tipis,maka kita akan
memerlukan ketahanan material yang sangat tinggi hingga misalnya seperti
serat carbon yang kekuatannya setara dengan baja.
Beberapa sayap sering saya lihat patah
di ujung stringernya. Stringer adalah suatu komponen untuk memperkuat
sayap bentuknya seperti tulang utama atau Spar, hanya fungsinya membantu
spar memperkuat sayap. Di bagian ujungnya ini sering patah dan saya
lihat karena pembebanan disini sudah cukup besar, sedang seharusnya
stringgernya harus lebih panjang daripada yang sekarang ada misalnya
melewati bagian yang patah tadi. Di bagian sayap yang patah tersebut
mengalami over stress, jangan sampai hal ini terjadi pada pesawat kita,
kalau kita ingin selamat bukan hanya selamat untuk kita sendiri dan
pesawat kita tetapi juga untuk teman-teman lain dan juga bagi masyarakat
yang menyaksikan dari bawah. Dengan sayap yang patah diatas pesawat
dapat juga menjatuhi rumah orang dan hal ini tentu tidak anda inginkan.
Penyambung sayap atau yang disebut Wing
joiner sering merupakan titik lemah dari struktur pesawat terbang model
yang tersusun secara konvensional. Saya sebut demikian karena pada
umumnya para aeromodeler kita menganggap bahwa wing joiner ini justru
memperkuat struktur sayap. Saya bisa setuju dan bisa juga tidak setuju
dengan pendapat tersebut. Saya setuju jika penyambungan antara wing
joiner dengan spar sebagai penahan struktur utama ini benar-benar dapat
dipertanggung jawakan. Saya akan menganggap hal ini sebagai titik
kelemahan, jika wing joiner kurang presisi dan gagal pada penyambungan
antara wing joiner dan spar. Jadi bukan patah pada wing joinernya, tidak
juga patah pada sparnya tetapi karena lepas pada pengelemannya. Ini
yang sering terjadi.
Sayap pada akhirnya akan dilapisi
dengan covering material seperti film atau kertas singkong atau fiber.
Namun cover material dalam struktur sebenarnya tidak boleh terlalu
diharapkan untuk bisa ikut berperan menahan beban . Untuk memberikan
ketegaran atau kekakuan pada arah torsi memang bisa diharapkan, hanya
untuk memberikan daya tahan untuk melawan moment lentur atau gaya
lintang sebaiknya anda menganggap covering tidak berperan. Hal ini
tentunya penting, sebab apabila anda mengharapkan covering material ini
berfungsi pada saat nantinya ternyata lemnya tidak menempel pada
struktur sayap,maka anda sudah over estimate mengenai fungsi kekuatan
covering material.
Dengan melihat berbagai aspek dan
pembebanan seperti tadi maka kita bisa meninjau akan beberapa besaran
penting pada saat kita merakit atau merancang pesawat terbang, dalam hal
ini pesawat terbang model.
Kedua adalah Ketinggian spar.
Ketinggian spar dipengaruhi oleh ketinggian atau ketebalan airfoil.
Jadi apabila kita memiliki ketebalan airfoil yang cukup kita akan
memperoleh ketinggian spar atas terhadap spar bawah yang cukup besar.
Ini akan memberikan inersia yang besar pada penampang sayap dan pada
waktunya nanti akan memberikan ketahanan material yang cukup baik untuk
menahan beban sayap.
Kita juga harus memperhatikan unsur
bentang atau panjang sayap dengan mengetahui pembebanan utama pada sayap
pada moment lentur, moment dalam hal ini dipengaruhi oleh bentang atau
posisi distribusi pembebanan maka kita mengetahui bahwa apabila sayap
yang kita pasang pada pesawat itu berbentang cukup panjang misalnya 180
cm atau 250 cm , anda mesti hati-hati untuk mengkaji struktur sayapnya.
Pemilihan bahan dan sebagainya juga harus diperhatikan sebab pembebanan
yang akan terjadi juga demikian besar khususnya dipangkal sayapnya.
Hal yang lain adalah pemasangan dari
Web ini memang tidak terlalu penting tugasnya yakni untuk menjaga atau
menahan defleksi yang terjadi pada spar. Namun apabila anda memasangnya
tidak serius maka web ini bisa menjadi hanya hiasan yang menempel
ditempat tersebut tetapi tidak berfungsi sebagai web. Ini juga terjadi
pada Wing joiner seperti yang saya bahas agak panjang sebelumnya. Wing
joiner yang dipasang sembarangan akan menyebabkan sayap patah pada
penyambungan joiner ini. Anda juga kaji dalam pemilihan bahan joiner
yang baik beberapa perancang menggunakan joiner dari aluminium dural dan
beberapa diantaranya juga menggunakan carbon sebagai bahan
penyambungan.
Hal lain yang juga ikut dipertimbang
kan adalah cara menyambung sayap itu sendiri. Apabila cara
penyambungannya menggunakan spar sebagai unsur pegangan utama maka hal
ini sudah benar. Saya melihat beberapa aeromodeler pemula masih
menggunakan rib sebagai titik pangkal penyambungan. Sebenarnya jika
diberikan antisipasi penambahan kekuatan pada rib-rib tersebut kearah
spar, memang ini bisa dimengerti. Namun apabila tidak diberikan
penguatan sama sekali, hal inilah yang menjadi pertanyaan. Saya pernah
menjumpai bagaimana seseorang menyambung sayap hanya ditembuskan
langsung ke rib sayapnya, padahal ribnya hanya terbuat dari bahan balsa
atau triplek 3mm. Kini kita mengetahui bahwa fungsi sayap kita adalah
memberikan gaya angkat yang utama pada seluruh pesawat terbang. Tetapi
ingat bahwa disamping menghasilkan gaya angkat, diupayakan gaya tahan
yang terjadi pada sayap juga tetap minimal, ini artinya sayap pesawat
terbang kita akan berfungsi secara efisien.
Untuk membuat sayap pesawat kita ini
berfungsi secara efisien maka permukaan luar nya juga harus bersifat
streamline dan aerodinamis. Kita memang akan memasang spar ,web, rib dan
pelapisan-pelapisan sayap sedemikian rupa untuk memperkuat strukturnya.
Namun ingat secara aerodinamis penampang luar nantinya harus mulus.
Apabila anda masih menjumpai kekasaran atau pun ketidak kontionuan
permukaan dibagian atas maupun bagian bawah sayap pesawat anda,
sebaiknya dengan cepat ambil amplas atau ambil serut dan ratakan bagian
yang kurang rata tersebut, kemudian baru ditahap selanjutnya kita lapisi
atau dicover dengan covering material. Selamat Berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar