Kamis, 13 Maret 2014

Lockheed Martin F-35 Lightning II

Lockheed Martin F-35 Lightning II



Lockheed Martin F-35 Lightning II

Lockheed Martin F-35 Lightning II adalah pesawat tempur multirole generasi kelima bermesin jet tunggal dan berteknologi Stealth buatan Lockheed Martin Amerika Serikat, sebagai pesawat tempur tercanggih pada saat ini F-35 memiliki tiga varian yang pertama adalah varian konvesional yang kedua adalah varian Short Take Off and Vertical Landing (STOVL) dan ketiga adalah varian Kapal Induk.

F-35 adalah turunan dari pesawat X-35, produk dari Program Joint Strike Fighter (JSF) antara pemerintah Amerika Serikat dan Kerajaan Inggris beserta Mitra strategis lain. Desain dan produksi pesawat oleh industri kedirgantaraan dipimpin oleh Lockheed Martin U.S.A dan penerbangan pertamanya pada 15 desember 2006.

Amerika berencana untuk membeli pesawat sebanyak 2.443 unit senilai U.S $ 232 billion sehingga menjadi program pertahanan yang paling mahal yang pernah ada, data anggaran United StateS Air Force (USAF) pada tahun 2010 dan menurut sumber lain menyatakan bahwa proyek F-35 memiliki prakiraan biaya antara U.S$ 89 million sampai U.S$ 200 million atas rencana produksi F-35 tergantung varian dan Lockheed Martin berupaya untuk mengurangi cost pemerintah hingga sebesar 20% dari perkiraan.

JSF Program

Program JSF dirancang untuk menggantikan pesawat militer Amerika Serikat seperti F-16, A-10 dan F/A-18 (termasuk varian baru E/F) serta pesawat tempur taktis AV-8B, untuk menjaga pengembangan, proses produksi dan penurunan biaya, desain umum direncanakan dalam tiga varian dimana 80% bagian mempunyai komponen yang sama.

  • F-35A : Varian Convesional Take Off and Landing (CTOL)
  • F-35B : Varian Short Take Off and Vertical Landing (STOVL)
  • F-35C : Varian carrier base CATOBAR (CV)

Lockheed Martin klaim bahwa F-35 dimaksudkan untuk menutup kemampuan udara ke udara jarak jauh kedua setelah F-22 Raptor, F-35 diharuskan menjadi empat kali lebih efektif dalam peperangan udara ke udara, delapan kali lebih efektif dalam peperangan udara ke darat dan tiga kali lebih efektif dalam pengintaian dan dominasi pertempuran dari pesawat tempur terdahulu dimana mempunyai jangkauan yang lebih panjang dengan dukungan logistik yang lebih sedikit.

Sementara kontrak pengembangan JSF telah ditandatangani pada 16 november 1996, kontrak untuk sistem pengembangan dan demonstrasi telah diberikan pada 26 oktober 2001 untuk Lockheed Martin X-35 bukan pada Boeing X-32 karena desain X-35 dianggap memiliki sedikit resiko dan memiliki potensi petumbuhan yang lebih. penunjukkan pesawat F-35 mengejutkan Lockheed Martin karena mereka telah mengembangkan pesawat itu terlebih dahulu dengan sebutan F-24.


gambar prototipe X-35

Fase Desain
Berdasarkan pengujian terowongan angin desain X-35 diperbesar hingga menjadi desain F-35, fuselage depan ditambah sebanyak 130 mm untuk ruang Avionik, Stabilisator horisontal dipindahkan 51 mm kebelakang untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol, permukaan atas fuselage diangkat 25 mm di sepanjang garis tengah dan ukuran terminal senjata pada varian STOVL ditingkatkan hingga menjadi sama dengan varian lainnya.

Varian F-35B STOVL terancam bahaya kehilangan persyaratan kinerja pesawat pada tahun 2004 karena terlalu berat 1.000 kg atau 8% dalam laporan, sebagai tanggapan Lockheed Martin menambahkan daya dorong mesin dan menipiskan airframe pesawat, mengurangi ukuran terminal senjata dan stabilisator vertikal, diarahkannya kembali dorongan dari roll post outlets ke nozzle utama, redesain kembali sambungan sayap,membagi sistem elektrikal dan bagian penting pesawat dibelakang kokpit. banyak dari perubahan itu diterapkan pada tiga varian untuk mempertahankan kesamaan kualitas, pada september 2004 upaya penurunan berat badan berhasil dengan menurunkan berat sampai 1.200 kg.

Pada juli 2006 USAF resmi mengumumkan nama F-35 Lightning II sebagai penghargaan atas nama pesawat tempur twin-prop USAF era perang dunia kedua Lockheed P-38 Lightning dan pesawat jet supersonic RAF era perang dingin English electric Lightning. F-35 Lightning II akan melanjutkan warisan dari dua pesawat tempur terbesar dan pesawat tempur terbaik sepanjang masa kata Ralph D Heath presiden dari Lockheed Martin Aeronautic Co.

Pada tanggal 19 desember 2008 Lockheed Martin meluncurkan pesawat F-35A pertama (AF-1) dengan berat yang sudah dioptimalkan, ini akan menjadi produksi pertama F-35 secara cepat dalam skala penuh dan secara struktural akan menjadi F-35A dimana pengirimannya akan dimulai pada tahun 2010.

Pada tanggal 5 januari 2009 enam pesawat F-35 telah jadi termasuk AF-1 dan AG-1 sedangkan 17 unit masih dalam proses produksi, 13 dari 17 unit pesawat adalah pesawat uji dan semua akan selesai pada tahun 2009 kata John R Kent Manajer komunikasi F-35 Lightning II Lockheed Martin Aeronautics, Empat lainnya adalah model pertama pesawat produksi dimana salah satunya akan dikirimkan ke Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) pada tahun 2010 langsung ke pangkalan udara Eglin dan pada tanggal 6 april 2009 Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates mengusulkan untuk mempercepat produksi untuk pembelian 2.443 pesawat F-35.

Pada tanggal 21 april menurut laporan Media mengatakan bahwa sekitar tahun 2007 sampai 2008 Mata-mata komputer telah berhasil menyalin dan mengunduh beberapa terabyte data yang terkait desain F-35 dan sistem elektronik yang berpotensi untuk pengembangan lawan terhadap sistem pertahanan pesawat namun pihak Lockheed Martin membantah adanya penyalahgunaan proyek dan mengatakan bahwa tidak ada informasi rahasia yang tercuri.

Pada 9 november Aston Carter wakil menteri pertahana Amerika Serikat bidang akuisisi teknologi dan logistik mengakui bahwa Pentagon dengan Joint Estimate Team (JET) menemukan biaya yang masuk akal di masa depan dan mengambil alih jadwal proyek dan beliau berniat untuk mengadakan pertemuan untuk mencoba menghindari hal tersebut. pada tanggal 1 februari 2010 Robert Gate mengganti manajer program JSF U.S Marine Mayor Jenderal David Heinz dan memotong pembayaran sebesar U.S$ 614 million kepada Lockheed Martin dikarenakan hitungan biaya program karena keterlambatan.

Pada tanggal 11 maret 2010 sebuah laporan dari Government Accountability Office ke Komite Senat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat proyeksi biaya untuk F-35A sekitar U.S$ 112 million untuk kurs saat itu, pada 2010 pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa program F-35 telah melampaui estimasi biaya awal lebih dari 50% dan pada tanggal 24 maret overruns biaya terbaru dan keterlambatan dianggap tidak bisa diterima dalam kesaksian Gates sebelum Konggres AS namun Gates menegaskan bahwa Proyek F-35 akan menjadi tulang punggung tempur Angkatan Udara Amerika Serikat untuk generasi berikutnya dan memberitahu konggres bahwa ia telah memperluas masa pengembangan F-35 menjadi 13 bulan dan dianggarkan U.S$ 3 billion lebih untuk program pengujian ketika produksi sedang melambat. pada bulan agustus 2010 Lockheed Martin mengumumkan penundaan dalam menyelesaikan sebuah problem produksi ” wing at mate overlap ” yang akan memperlambat produksi awal.

Pada bulan november 2010 sebagai bagian dari pemotongan biaya wakil dari komisi nasional tanggung jawab fiskal dan reformasi menyarankan pembatalan pengadaan F-35B dan membagi pesanan untuk F-35A dan F-35C dan pada saat yang sama Air Force Magazine melaporkan bahwa pejabat Pentagon sedang mempertimbangkan membatalkan F-35B karena alasan jangkauan yang dekat atas dasar basis kapal yang beroperasi akan masuk kedalam jangkauan misil balistik taktis yang bermusuhan namun Konsultan Lockheed Martin Loren B Thompson mengatakan bahwa rumor ini hanyalah akibat dari ketegangan biasa antara U.S Navy dan Marines dan tak ada alternative lain sebagai pengganti pesawat AV-8B dan dia juga menegaskan akan ada penundaan lebih lanjut dan kenaikan biaya dalam proses pembangunan karena masalah teknis pesawat dan perangkat lunaknya dan menyalahkan sebagian besar penundaan dan biaya tambahan pada pengujian yang berlebihan. Pusat informasi pertahanan mengatakan bahwa program ini akan direstrukturisasi dengan penambahan waktu keterlambatan dan biaya tambahan sebesar U.S$ 5 billion dan pada tanggal 5 november perangkat lunak pada pesawat Block 1 terbang pertama kalinya pada prototipe BF-4 meliputi informasi Fusi dan kemampuan awal melepaskan senjata.


prototipe pesawat BF-04
Desain
F-35 tampak lebih kecil, sedikit agak konvesional, bermesin tunggal sama dengan yang dipakai F-22 Raptor karena memang mengambil unsur dari situ, desain saluran pembuangan terinspirasi oleh desain model 200 General Dynamics yang diusulkan untuk persyaratan Pesawat Supersonic VTOL untuk kontrol di kapal laut tahun 1972. untuk pengembangan varian STOVL F-35B Lockheed Martin berkonsultasi dengan Biro desain Yakolev, pembelian data desain dari pengembangan Yakolev Yak -141 Free Style, walaupun desain eksperimen beberapa telah dibangun dan diuji coba sejak tahun 1960-an termasuk kegagalan Rockwell XFV-12 Navy. F-35B akan menjadi pesawat supersonik STOVL pertama yang beroperasi.

F-35 memiliki kecepatan maksimum lebih dari Mach 1,6 dengan berat lepas landas maksimum sebesar 60.000 lb (27.000 kg), Lightning II jadi lebih berat dari pesawat yang digantikannya, dalam berat kotor kosong maupun maksimum lebih mirip pesawat Republic F-105 Thunderchief, pesawat terbesar berkursi tunggal dan bermesin tunggal sejak era perang Vietnam. namun mesin modern F-35 memberikan 60% lebih daya dorong dengan berat yang sama dan dalam dorongan berat dan daya angkut sayap lebih mirip komparasinya dengan F-16 lengkap.

Asisten sekretaris Angkatan Udara Letnan Jenderal Markus D Shackelford mengatakan bahwa F-35 dirancang untuk pembunuh utama misil darat ke udara dan perlengkapan unik dalam misi ini dengan cutting edge processing power, synthetic aperture radar integration techniques dan pengenalan target yang lebih maju. Lockheed Martin juga menyarankan bahwa F-35 dapat menggantikan Pesawat USAF F-15C/D dalam peran superioritas udara dan F-15E Strike Eagle dalam peran serangan ke darat tetapi tidak mempunyai jangkauan atau muatan dari salah satu F-15 model. namun F-35A membawa persenjataan udara ke udara serupa dengan pesawat F-15SE Silent Eagle, ketika kedua pesawat dikonfigurasikan untuk misi pengamatan rendah dan mempunyai 80% lebih besar dalam radius peperangan pesawat.

Beberapa perbaikan dalam pesawat tempur generasi sekarang adalah :

  • Tahan lama, perawatan rendah, teknologi stealth, menggunakan anyaman serat karbon berstruktur menggantikan lapisan platform stealth lama dengan perawatan mahal.
  • Integrasi Avionik dan sensor fusi yang menggabungkan informasi dari luar dan papan sensor untuk meningkatkan kesadaran situasional pilot dan meningkatkan identifikasi sasaran dan pengiriman senjata serta untuk menyampaikan informasi dengan cepat ke perintah lain dan kontrol C2 nodes.
  • Jaringan data berkecepatan tinggi termasuk IEEE 1394b dan fibre channel.
  • Autonomic Logistic Global Sustainment (ALGS), Autonomic Logistic Information Sysyem (ALIS) dan Computerized Maintenance Management System (CMMS) membantu memastikan ketepatan waktu pesawat dengan tenaga perawatan minimal.
  • Electrohydrostatic actuators run by a power-by-wire flight control system.

Mayoritas struktur komposit dalam F-35 terbuat dari Bismaleimide (BMI) dan material komposit epoksi.

Mesin
Mesin utama F-35 adalah Pratt & Withney F135, General Electric/Roll Royce F136 sedang dikembangkan sebagai alternatif mesin. mesin F135/F136 tidak dirancang untuk supercruise dalam F-35, varian STOVL untuk pembangkit listrik keduanya memakai Roll Royce LiftSystem, dipatenkan oleh Lockheed Martin dan dibangun oleh Roll Royce. sistemnya seperti Yak-141 Rusia dan VJ-101D/E Jerman dari generasi sebelumnya yang STOVL desain, seperti Harrier Jump Jet dimana semua udara mengangkat melewati kipas utama mesin Roll Royce Pegasus.
Varian Mesin :

  • F135-PW-100 : untuk F-35A CTOL varian.
  • F135-PW-400 : untuk F-35C carrier varian.
  • F135-PW-600 : untuk F-35B STOVL varian.

Sistem pengangkat terdiri dari sebuah kipas pengangkat, poros penggerak, dua roll post dan tiga Bearing Swivel Module (3BSM). 3BSM adalah thrust vectoring nozzle yang memungkinkan knalpot mesin utama untuk dibelokkan ke bawah di ekor pesawat, kipas pengangkat berada dekat dengan bagian depan pesawat yang berfungsi sebagai penyeimbang daya dorong langsung, agak seperti turbofan vertikal yang dipasang di bagian depan pesawat, daya angkat kipas ini didukung oleh tekanan rendah turbin mesin melalui poros penggerak dan gearbox, kontrol putaran selama penerbangan pelan dicapai dengan mengalihkan udara bypass mesin melalui nozzle dorong sayap pasangan dan disebut Roll posts.

F-35B Lift fan mencapai efek flow multiplier sama seperti Harrier besar tetapi tidak praktis supersonik hanya kipas utama. seperti mesin pengangkat mesin ini hanya menambahkan bobot mati selama penerbangan horisontal tetapi memberikan kenaikan bersih kapasitas muatan selama penerbangan vertikal. knalpot pendingin dari kipas juga mengurangi jumlah panas, udara kecepatan tinggi yang diproyeksikan ke bawah pada saat vertikal take off dapat merusak landasan dan deck kapal induk, meskipun rumit dan beresiko sistem pengangkat telah dibuat bekerja untuk kepuasan pejabat DOD.

Sampai saat ini pembiayaan mesin F136 telah mengorbankan bagian lagi dari program, mengurangi jumlah pesawat produksi dan meningkatkan biayanya. team F136 telah mengklaim bahwa mesin mereka memiliki margin suhu terbesar yang dapat membuktikan kritik pada operasi VTOL dalam suhu panas dan kondisi ketinggian.

Di akhir 2008 Angkatan Udara mengungkapkan bahwa F-35 akan dua kali lebih keras saat lepas landas dari F-15 Eagle dan lebih empat kali lebih keras saat mendarat, sebagai hasilnya warga didekat pangkalan udara Luke Arizona dan pangkalan udara Eglin Florida sebagai pangkalan jet tempur telah meminta Angkatan Udara untuk melakukan studi terhadap dampak lingkungkan diakibatkan oleh tingkat kebisingan F-35. kota Valparaiso florida dekat dengan Eglin AFB pada bulan februari 2009 mengancam untuk menuntut di pengadilan kepada Angkatan Udara atas rencana kedatangan F-35 namun telah diselesaikan secara hukum pada maret 2010. selain itu dilaporkan pada maret 2009 bahwa test oleh Lockheed Martin dan Angkatan Udara Australia pesawat F-35 tidak sekeras seperti pertama kali dilaporkan hanya sekeras suara F-16 dan tidak seberisik suara F-22 Raptor dan F/A-18 Super Hornet. Pratt & Withney juga telah menguji versi daya dorong tertinggi F-135 sebagai tanggapan terhadap klaim GE F-136 mampu menghasilkan daya dorong lebih dari 43.000 lbf (190 kn) yang dihasilkan oleh F-135 awal, F-135 telah menunjukkan daya dorong maksimum lebih dari 50.000 lbf (220 kn) selama pengujian.


gambar mesin jet pratt & withney F135
 

gambar prototipe mesin GE F136 sebagai alternatif
 
gambar mekanisme mesin pada varian STOVL


gambar mesin Rolls Royce lift fan saat terbuka


gambar Three Bearing Swivel Module (3BSM)


F-35 diperlengkapi dengan persenjataan berbeda dengan pesawat tempur kebanyakan dan akan menjadi desain pesawat tempur di masa depan, karena memiliki bahan dan teknologi stealth maka penempatan persenjataan berada didalam badan pesawat (mock up) dan tidak ada cantelan eksternal untuk mendukung fungsi stealth. menggunakan meriam GAU-22/A four-barrel 25mm dengan 180 putaran dipasang secara internal pada varian F-35A dan dipasang secara eksternal pada varian F-35B dan F-35C dengan 220 putaran. pod senjata untuk varian B dan C akan memiliki fitur stealth, polong ini akan dapat dipergunakan untuk peralatan yang berbeda di masa depan seperti EW, peralatan pengintai atau mungkin radar yang menghadap kebelakang.
mekanisme penempatan senjata mungkin akan berbeda-beda di tiap varian karena pengaruh sisa ruang terutama pada varian B namun sebagian besar sistemnya seperti pada F-22 Raptor.


gambar mock up armament bay


gambar landing gear door stealth design

Stealth
F-35 telah dirancang untuk memiliki RCS rendah terutama disebabkan oleh pemilihan bahan yang digunakan untuk kontruksi termasuk serat fiber. berbeda dengan generasi sebelumnya F-35 dirancang dengan bentuk karakteristik observasi rendah. pesawat seperti F-15, F-16 dan F/A-18 penting untuk selalu membawa bahan bakar eksternal dalam jumlah besar tetapi tidak untuk F-35 karena karakter stealthnya membuatnya terbang tanpa bahan bakar ekternal, F-35 tidak memiliki Leading Edge Extension (LEX) seperti F-16 dan F/A-18 namun sebagai gantinya menggunakan stealth-friendly chines for fortex lift seperti yang dipakai pesawat SR-71 Blackbird. sebuah benjolan kecil berada didepan saluran udara mesin sebagai komponen dari Diverterless Supersonic Inlet (DSI) yang lebih sederhana, ringan dan stealth untuk memastikan aliran udara berkualitas tinggi ke mesin dalam berbagai kondisi.

Meskipun F-35 lebih kecil dari F-22 Raptor namun memiliki RCS lebih besar karena F-22 dirancang untuk lebih sulit dideteksi oleh semua jenis radar dan dari segala arah, F-35 disisi lain memanifestasikan penerimaan radar terendah dari aspek depan karena kompromi dari desain. permukaannya dibentuk untuk mengalahkan radar yang beroperasi pada X dan S band terbaik yang biasa dipakai oleh pesawat tempur, misil udara ke permukaan dan radar pencarinya. sementara pesawat akan kurang sulit mengamati dengan pengamatan radar pada frekuensi lain seperti L band, desain masih ditujukan pada pesawat yang lebih sulit dideteksi, dilacak dan yang terpenting tidak ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara yang beroperasi pada frekuensi X dan S band. para kru telah melakukan uji test Repair Verifikasi Radar (RVS) untuk menverifikasi RCS pesawat setelah melakukan perbaikan yang tidak menjadi perhatian bagi generasi pesawat sebelumnya yang non stealth.

Kokpit
F-35 memiliki panel penuh yang lebar, kokpit kaca dengan Panoramic Cockpit Display (PCD) dengan dimensi 20 x 8 inchi (50 x 20 cm), mempunyai DVI sistem buatan Adacel untuk meningkatkan kemampuan pilot untuk mengoperasikan pesawat di generasi mendatang, sistem ini juga diterapkan pada Dassault Rafale. F-35 akan menjadi pesawat tempur pertama Amerika yang akan memakai sistem ini meskipun sistem serupa telah digunakan di pesawat AV-8B dan diujicobakan di jet Amerika sebelumnya terutama F-16 VISTA.
Sebuah Helmet-Mounted Display System (HMDS) akan dipasang di semua model F-35 dan Helmet-Mounted Cueing System sudah digunakan pada pesawat F-15, F-16 dan F/A-18 sementara pesawat tempur lainnya juga menawarkan HMDS bersama Head Up Display. ini akan menjadi pertama kali dalam beberapa dekade bahwa garis depan taktis pesawat jet tempur dirancang untuk tidak membawa HUD sistem, F-35 juga dilengkapi dengan stik kontrol disebelah kanan.
Kursi lontar merk Martin Baker US16E digunakan pada semua varian F-35, didisain untuk mengimbangi kemampuan dalam persyaratan utama meliputi safe terrain clearance limits, pilot load limits dan pilot sizes, menggunakan sistem ketapel kembar yang bertempat di sisi rel.


gambar kokpit F-35 Lightning II


gambar panoramic cockpit display (PCD) F-35
 
gambar martin baker ejection seat

Avionik
Sensor dan perangkat komunikasi F-35 dimaksudkan untuk memfasilitasi kesadaran situasional, kontrol dan perintah serta kemampuan peperangan jaringan sentris. sensor utama di maiboard adalah radar AN/APG-81 AESA dirancang oleh Northrop Grumman Electronic System dan ditambah dengan Electro Optical Targeting System (EOTS) dipasang dibawah hidung pesawat dirancang oleh Lockheed Martin, ini memberikan kemampuan sama dengan Lockheed Martin Sniper XR untuk menghindari membuat pesawat mudah dideteksi.
Tambahan enam sensor pasif infra merah didistribusikan ke pesawat sebagai bagian dari Northrop Grumman AN/AAQ-37 Distributed Aperture System (DAS) yang bertindak sebagai sistem peringatan rudal, melaporkan lokasi peluncur rudal, mendeteksi dan mencari menjelang pesawat lain mendekati F-35 dan menggantikan kacamata pengelihatan dan navigasi malam tradisional. semua fungsi DAS ditampilkan secara serentak ke semua arah dan setiap waktu. AN/ASQ-239 (barracuda) Electronic Warfare System dirancang oleh BAE System termasuk komponen Northrop Grumman didalamnya. perangkat Comunication and Navigation Identification (CNI) dirancang oleh Northrop Grumman termasuk Mulifunction Advanced Data Link (MADL). F-35 akan menjadi jet tempur pertama yang memiliki fusi sensor yang menggabungkan kedua frekuensi radio dan pencarian infra merah untuk deteksi dan identifikasi target terus menerus di segala penjuru yang dibagi melaui MADL untuk platform lainnya tanpa mengorbankan pengawasan yang rendah.
F-35 telah dirancang dengan sinergi antar sensor sebagai persyaratan tertentu, dengan “indra” pesawat diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih kohesif dari realitas di sekitarnya, dan akan tersedia pada prinsipnya untuk digunakan dengan kemungkinan apapun dan kemungkinan kombinasi dengan satu sama lain. Semua sensor akan langsung masuk ke prosesor utama untuk mendukung misi seluruh pesawat. seperti contoh radar AN/APG-81 berfungsi tidak hanya sebagai multi-mode radar tetapi juga sebagai bagian dari sistem peperangan elektronik pesawat.
Tidak seperti pesawat sebelumnya seperti F-22 Raptor semua perangkat lunak untuk F-35 ditulis dalam program C++ untuk pengembangan kode yang lebih cepat. integritas DO-178B Real Time Operating System (RTOS) dari perusahaan Software Green Hills berjalan pada Prosessor Power PC COTS Freescale. perangkat lunak untuk pesawat block 3 F-35 direncanakan untuk memiliki 8,6 juta baris kode perangkat lunak. skala program telah menyebabkan krisis perangkat lunak dan pejabat memerintahkan untuk meneruskan pencarian perangkat lunak tambahan yang dibutuhkan. Jenderal Norton Schwartz mengatakan bahwa perangkat lunak adalah faktor terbesar yang menyebabkan penundaan kemampuan awal operasional (IOC) Angkatan Udara Amerika Serikat yang sekarang akan dijadwalkan pada april 2016.
Sistem peperangan elektronik F-35 dimaksudkan untuk mendeteksi pesawat musuh yang pertama yang kemudian akan dipindai dengan sistem elektro optical dan tindakan yang ikut diambil atau menghindari lawan sebelum F-35 terdeteksi.
Angkatan Udara Amerika Serikat berencana untuk mengupgrade armada F-22 Raptor dengan sensor modern dari F-35 akan tetapi belum ada anggaran dana untuk ini.



gambar radar AN/APG-81 AESA
 
gambar F-35 EOTS

Helmet Mounted Display System
Karena kecanggihan sistem sensor pad F-35 maka pengoperasian pesawat menjadi mudah karena sistem yang sudah terkomputerisasi dan berintegrasi satu sama lain termasuk teknologi Helm yang lebih maju sehingga semua informasi operasional pesawat langsung diterima oleh Helm, sensor menggunakan kombinasi antara frekuensi radio dan pencari infra merah (SAIRST) untuk melacak pesawat terdekat sementara helm HMDS menampilkan dan memilih target, sistem helm terbaru menggantikan fungsi Head Up Display yang dipakai oleh pesawat generasi sebelumnya.
Sistem F-35 menggeser sedikit demi sedikit fungsi observasi, orientasi, mengambil keputusan dan menggambil tindakan (OODA), fungsi stealth dan sensor bantuan yang maju dalam observasi, pelacakan target membantu dalam orientasi, fusi sensor menyederhanakan pengambilan keputusan dan kontrol pesawat yang memungkinkan tindakan pada target tanpa perlu berpaling dari target.
gambar HMDS F-35
F-35 dipersiapkan juga untuk peperangan elektronik menggantikan pesawat EA-6B Prowler US Marine meskipun pesawat terbaru generasi Super Hornet A-18 Growler sudah bertugas akan tetapi F-35 beda karena ini adalah pesawat stealth. F-35 akan memiliki kemampuan Cyber attack dimana radar AESA digunakan untuk menyerang dan menyisipkan kode kedalam sistem remote. desain ITT-Boeing untuk NGJ meliputi enam array AESA untuk semua jangkauan, team telah mendapatkan kontrak U.S$ 42 million untuk mengembangkan desainnya berdasarkan kemampuan ITT pada broadband electronically steerable antenna arrays pada saat yang sama kontrak juga diberikan kepada Raytheon, Northrop Grumman dan BAE System.

F-35A pertama (kode AA-1) telah diluncurkan di Fort Worth Texas pada 19 februari 2006, pesawat menjalani test tanah yang luas di Naval air station joint reserve base Forth Worth pada akhir tahun 2006. pada september 2006 mesin afterburner turbofan pada airframe F-35 pertama kali terbang dan test dinyatakan selesai, pertama kali F-35 dinyatakan berfungsi menyeluruh dengan sistem pembangkit sendiri. pada 15 desember 2006 F-35 melakukan penerbangan perdananya. sebuah pesawat Boeing 737-300 Lockheed CATBird modifikasi digunakan untuk menguji rangkaian Avionik dimana didalamnya terdapat rak gantung membawa Avionik dan semua bagian F-35.

Pada tanggal 31 januari 2008 di Forth Worth Texas Letkol James Kromberg dari USAF menjadi pilot militer pertama untuk mengevaluasi F-35, membawa pesawat melalui serangkaian manuver dalam penerbangan ke 26. F-35 AA-1 pada uji penerbangannya ke 34 mulai melakukan uji pengisian bahan bakar di udara pada maret 2008, tonggak lain dicapai pada 13 november 2008 ketika AA-1 terbang pada kecepatan supersonik untuk pertama kalinya, mencapai Mach 1,05 pada 30.000 kaki (9.144 m) membuat empat transisi melalui hambatan suara dengan total delapan menit penerbangan supersonik.

F-35B pertama (BF-1) melakukan penerbangan pertamanya pada 11 juni 2008, penerbangan yang menampilkan lepas landas konvesional dikemudikan oleh pilot penguji BAE System Graham Tomlinson, BF-1 adalah yang kedua dari 19 System Development and Demonstration (SDD) F-35 dan yang pertama menggunakan fitur desain beban berat optimal yang akan diaplikasikan pada F-35 di masa depan. pengijian sistem propulsi varian STOVL dalam penerbangan dimulai pada 7 januari 2010, sistem STOVL digunakan dalam 14 menit dari 48 menit test penerbangan sambil pesawat melambat pada 210 knot (390 km/jam) sampai 180 knot (330 km/jam). F-35B pertam melayang-layang ( berhenti penuh diudara ) terjadi pada 17 maret 2010 diikuti dengan pendaratan STOVL, dan pada 18 maret 2010 pendaratan vertikal pertama kali dilakukan. selama test penerbangan pada 10 juni 2010 F-35B menjadi pesawat kedua yang melakukan penerbangan supersonik yang pertama adalah pendahulunya X-35B yang melakukan prestasi yang sama pada 10 juli 2001.

Meskipun banyak dari target uji terbang awal telah dicapai, program pengujian F-35 selesai “hanya di bawah 100 sorties dan tentang banyaknya waktu dalam 2,5 tahun” pada Juni 2009 dan jatuh secara signifikan di belakang jadwal. Pentagon Bersama Perkiraan Tim (JET I) pada 2008 memperkirakan bahwa program itu dua tahun di belakang jadwal umum terbaru, dan Perkiraan 2009 Bersama Tim (JET II) direvisi bahwa perkiraan untuk memprediksi penundaan selama 30 bulan. Karena keterlambatan mereka dalam pengujian program, angka produksi akan dikurangi dengan 122 pesawat sampai 2015 dalam rangka untuk menyediakan dana tambahan untuk pembangunan.dana tambahan tersebut akan menambah 2.8 miliar dolar untuk dana pengembangan dan memo internal menunjukkan bahwa waktu resmi akan diperpanjang 13 bulan ( bukan 30 bulan dalam prediksi tim JET II ). Keberhasilan Bersama Tim Estimate telah menyebabkan Ashton Carter untuk memanggil untuk tim tersebut lebih banyak untuk proyek-proyek Pentagon yang berkinerja buruk.

Hampir 30 persen dari semua test penerbangan telah diperlukan lebih dari pemeliharaan rutin untuk mendapatkan pesawat yang siap terbang. Pada Maret 2010, program F-35 yang telah menggunakan satu juta lebih jam terbang dari yang diperkirakan dan pengujian penerbangan diharapkan mengakibatkan perubahan desain lebih lanjut. Angkatan Laut Amerika Serikat telah memproyeksikan bahwa siklus biaya selama 65 tahun armada tugas untuk semua F-35 Amerika akan US$ 442 billion lebih tinggi dari Angkatan Udara AS telah memproyeksikan.

Penundaan dalam program F-35 dapat menyebabkan kekurangan sekitar 100 jet tempur dalam tim Angkatan Laut / Marinir sehingga lebih hati-hati memanajemen dalam perpanjangan layanan F/A-18 warisan Marinir dan beban lebih ditempatkan pada pesawat tempur Angkatan Laut yang dimungkinkan untuk menutup kekurangan ini.

penerbangan perdana Varian F-35C berlangsung pada tanggal 7 Juni 2010, juga di Fort Worth NAS JRB. Penerbangan 57 menit dieksekusi oleh test pilot Lockheed Jeff “Slim” Knowles, yang adalah kepala penguji untuk program F-117. total 11 pesawat F-35 USAF akan tiba pada tahun Anggaran 2011.

F-35 rencananya akan dibuat dalam tiga varian, F-35A, F-35B dan F-35C namun dikedepannya akan dibuat Varian F-35I versi export/ internasional pesanan Israel dimana spesifikasi pesawat akan sama namun mempunyai tambahan fitur peperangan elektronik terintegrasi buatan Israel sendiri namun pihak Amerika menolaknya dan mengijinkan jika sistemnya bersifat plug and play atau add-on mode dan seperti biasa untuk persenjataan Israel selalu memakai rudal dan bom buatan mereka sendiri. namun sejauh ini pihak yang akan mendapatkan pesawat F-35 adalah Inggris terlebih dahulu mengingat peran pemerintah Inggris dalam pengembangan JSF F-35 dan sejauh ini belum terkirim dikarenakan masih banyak masalah dalam pengembangan F-35 mengingat kebutuhan Inggris untuk menggantikan peran pesawat Harrier yang akan mulai pensiun untuk mengisi armada Kapal Induknya dan varian yang diinginkan adalah F-35B mengingat karakter kapal induk Inggris yang tidak menggunakan catapult melainkan menggunakan skyjump untuk take off pesawat.

Armament

  • Guns: 1 × General Dynamics GAU-22/A Equalizer 25 mm (0,984 in) 4 barreled gatling cannon, internally mounted with 180 rounds.

  • Hardpoints:6 × external pylons on wings with a capacity of 15,000 lb (6,800 kg) and 2 × internal bays with 2 pylons each for a total weapons payload of 18,000 lb (8,100 kg) and provisions to carry combinations of.
    • Missiles:
      • Air-to-air: AIM-120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, AIM-9X Sidewinder, IRIS-T, Joint Dual Role Air Dominance Missile (JDRADM) (after 2020).
      • Air-to-ground: AGM-154 JSOW, AGM-158 JASSM.
    • Bombs:
      • Mark 84, Mark 83 and Mark 82 GP bombs.
      • MK-20 Rockeye II cluster bomb.
      • Wind Corrected Munitions Dispenser capable.
      • Paveway series laser-guided bombs.
      • Small Diameter Bomb (SDB).
      • JDAM series.
      • B61 Nuclear Bomb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar